Flying Solo or Flying High? Kalau Mau Aman Harus Berpasangan

 

Oleh:

Inanti P. Diran

Wakil Ketua II AICI

 

 

Jika kita melakukan perjalanan menggunakan pesawat terbang, terutama yang berbadan lebar, kita sudah menganggap lumrah ada dua orang yang mengemudikan pesawat. Seorang pilot dan seorang kopilot, yang sering juga disebut first officer. Kita mungkin tidak pernah memikirkan alasannya, sudah menganggapnya wajar dan biasa saja, “Ya, memang harus seperti itu, sudah selalu begitu.”  Sebenarnya ada alasan penting di balik itu semua.

Tugas seorang pilot bukan hanya mengemudikan pesawat, tapi juga bertanggung jawab terhadap keseluruhan penerbangan, awak pesawat, penumpang, dan pesawat yang dikemudikan. Sementara seorang kopilot bertugas membantu pilot dari sisi komunikasi, navigasi, dan menggantikan posisi pilot saat pilot beristirahat. Meskipun demikian, tidak ada perbedaan nyata antara tugas keduanya. Baik pilot dan kopilot sama-sama bertanggung jawab atas keselamatan penerbangan dan memastikan penumpang sampai di tujuan dengan selamat. Seorang kopilot tidak harus berpangkat lebih rendah dari seorang pilot, terkadang keduanya sama-sama berpangkat empat garis. Yang menarik, dalam penerbangan long-haul atau jarak jauh, ada tiga orang yang bertugas mengemudikan pesawat untuk memberi kesempatan beristirahat yang lebih lama bagi pilot yang sedang tidak bertugas, karena tingkat tekanan yang dialami seorang pilot sangat tinggi. Sebenarnya ada pesawat yang dikemudikan oleh satu orang pilot, yaitu pesawat pribadi berbadan kecil atau sedang, dengan jarak tempuh penerbangan yang tidak terlalu jauh atau lama.

Lantas, apa kaitannya dengan penjurubahasaan? Mari kita ubah kokpit pesawat menjadi bilik juru bahasa (booth), pilot dan kopilot sebagai juru bahasa, dan awak kabin serta penumpang sebagai pembicara dan peserta suatu pertemuan besar. Tugas pilot adalah memastikan keselamatan penerbangan, tugas juru bahasa adalah memastikan komunikasi berjalan dengan lancar dengan tugas utama menjembatani komunikasi antara dua atau beberapa pihak yang tidak menggunakan bahasa yang sama. Sama halnya dengan seorang pilot, juru bahasa juga bekerja dalam tekanan yang tinggi. Tugas pilot adalah memastikan semua instrumen penerbangan berfungsi dengan baik, berkomunikasi dengan pengatur lalu lintas udara, dan menjaga agar tidak terjadi masalah apa pun selama penerbangan berlangsung. Tugas juru bahasa adalah mengkomunikasikan dan mengalihbahasakan ujaran atau pesan yang disampaikan pembicara secara akurat dan dengan cara yang mudah dipahami oleh para pendengar, meskipun sesekali harus menghadapi “turbulensi”. Penjurubahasaan yang dihasilkan juga harus memberikan dampak yang sama dengan pendengar yang tidak mendengarkan hasil penjurubahasaan. Artinya, juru bahasa harus memastikan komunikasi yang berlangsung berjalan dengan baik, lancar, lugas, dan dapat membawa hasil yang positif dan memuaskan bagi semua pihak.

 

Penjurubahasaan Simultan

Penjurubahasaan bukanlah proses mekanis yang sekedar mengalihbahasakan kata dari bahasa sumber (BSu) ke bahasa sasaran (BSa). Penjurubahasaan merupakan suatu proses kognitif yang kompleks dan sangat berat. Penjurubahasaan adalah tentang memahami konteks pembahasan dan menyampaikan kembali makna, atau pesan sesungguhnya, dari pembicara. Untuk dapat memproduksi ulang ujaran dan pesan pembicara dari BSu ke BSa tidak hanya dibutuhkan kemahiran bahasa, tetapi juga kemahiran dalam memahami situasi dan kondisi tempat pembicaraan berlangsung, termasuk pemahaman terhadap pembicara, peserta pertemuan, atau kepada siapa juru bahasa memproduksi ulang pesan pembicara.

 Dalam penjurubahasaan konferensi, khususnya penjurubahasaan simultan, tekanan yang dirasakan oleh juru bahasa semakin meningkat karena juru bahasa harus mampu berkonsentrasi penuh, mendengarkan, menganalisis, dan memahami setiap aspek pembahasan secara terus menerus kemudian mengalihbahasakannya pada saat yang bersamaan secara waktu nyata (real time), dalam waktu yang sangat terbatas, situasi yang bertekanan tinggi, dan dengan kecepatan yang sama dengan pembicara. Hal-hal tersebut tentu akan berdampak pada kondisi mental juru bahasa dan menjadi stressor yang dapat mengganggu proses penjurubahasaan yang berlangsung.

Juru bahasa harus berkonsentrasi penuh agar dapat memberikan penjurubahasaan yang berkualitas, sementara batas maksimal manusia untuk berkonsentrasi penuh hanyalah sekitar 20-30 menit, lebih dari itu biasanya konsentrasi akan menurun dan juru bahasa akan mulai merasa kelelahan. Selain itu, semua informasi yang diujarkan pembicara juga harus disimpan dan dianalisis dalam BSu sebelum dialihbahasakan ke BSa dalam waktu yang sangat terbatas. Hal ini tentunya akan membebani kapasitas daya ingat (memori) juru bahasa, yang merupakan salah satu unsur utama penjurubahasaan. Menurunnya daya konsentrasi dan kapasitas daya ingat, serta meningkatnya rasa lelah dapat berdampak pada kualitas penjurubahasaan yang dihasilkan.

Juru bahasa bukanlah robot atau kamus berjalan yang dapat dengan mudah mencari padanan kata yang tepat dalam sekejap. Ada kalanya juru bahasa akan menemukan kata, frasa, atau jargon yang mungkin tidak dapat serta merta ditemukan padanannya. Penjurubahasaan simultan juga bukan sekedar mengalihbahasakan kata karena jika juru bahasa hanya mengalihbahasakan setiap kata yang diujarkan pembicara maka ada kemungkinan terjadinya kesalahpahaman atau miskomunikasi, bahkan kegagalan dalam proses komunikasi yang berlangsung.

Itulah kenapa dalam melakukan penjurubahasaan simultan, juru bahasa tidak bisa bekerja sendiri. Penjurubahasaan simultan membutuhkan sedikitnya dua orang juru bahasa, atau dalam kondisi tertentu tiga orang juru bahasa, dalam satu bilik juru bahasa. Pertama, untuk berganti tugas dan memberi kesempatan beristirahat, dan kedua, untuk saling membantu saat juru bahasa menghadapi kesulitan. Kesulitan-kesulitan ini dapat berupa kesulitan dalam memahami pesan, mencari terminologi yang tepat, dan dalam mengingat serta memproduksi ulang angka, nama, atau bahkan akronim. Hal terpenting yang harus diingat adalah keberhasilan juru bahasa dalam mengkomunikasikan pesan pembicara secara lancar tanpa jeda dalam sebuah pertemuan sangat bergantung pada semua pihak yang terlibat di dalamnya, para pembicara, juru bahasa, dan peserta pertemuan.

 

Penjurubahasaan Jarak Jauh (Remote Interpreting)

            Sejak merebaknya pandemi COVID-19 kegiatan penjurubahasaan mengalami perubahan yang cukup besar. Penjurubahasaan tidak lagi dilakukan di lokasi kegiatan, tapi berpindah ke ruang virtual secara daring menggunakan berbagai platform pertemuan virtual dan/atau platform penjurubahasaan simultan tambahan. Juru bahasa bisa bekerja dari rumah atau lokasi kerja bersama (co-working spaces), serta hub yang memiliki akses internet yang kuat.

            Banyak yang beranggapan bahwa penjurubahasaan jarak jauh lebih mudah dan lebih nyaman karena juru bahasa bisa bekerja di lingkungannya sendiri, di rumah sendiri, bahkan tanpa harus berdandan atau berpenampilan rapi karena tidak akan akan terlihat di layar. Namun, penjurubahasaan jarak jauh, khususnya penjurubahasaan simultan jarak jauh atau remote simultaneous interpreting (RSI), memiliki tantangan tersendiri, dan beban yang lebih besar. RSI dapat menimbulkan rasa terasing dari kegiatan yang sedang berlangsung. Rasa keterasingan ini muncul karena juru bahasa tidak bearada di lokasi kegiatan, akibatnya juru bahasa tidak memiliki pandangan langsung terhadap proses berlangsungnya pertemuan dan tidak dapat merasakan suasana dan nuansa yang tercipta pada pertemuan tersebut. Yang harus diingat, penjurubahasaan tidak hanya menyangkut pengujaran informasi tetapi juga interaksi antara perilaku verbal, visual, dan sikap para pembicara serta peserta.

Sebagian besar juru bahasa menyadari bahwa sarana audio dan video terbaik pun tidak dapat menggantikan proses tatap muka langsung. Pertemuan virtual yang digelar kerap kali menghadirkan pembicara yang tidak menggunakan pelantang (mikrofon) tambahan dan hanya mengandalkan pelantang dari perangkat komputer atau laptop sehingga suara yang dihasilkan seringkali tidak jernih, tidak jelas, dan bahkan terputus-putus.

Unsur kekuatan jaringan internet juga menjadi penghambat yang dapat mengganggu tugas juru bahasa. Jaringan internet yang lemah, baik di pihak penyelenggara maupun juru bahasa, dapat mengganggu video yang ditampilkan sehingga seringkali audio dan video pembicara tidak sinkron, atau bahkan berhenti untuk beberapa saat. Selain itu, juru bahasa sering tidak dapat melihat pembicara dengan jelas, karena hanya ditampilkan dalam kotak-kotak kecil, sehingga menyulitkan juru bahasa untuk melihat ekspresi dan gerak tubuh pembicara, yang merupakan unsur penting dalam sebuah komunikasi dan dalam memahami maksud sesungguhnya dari pembicara.

Dan karena sifatnya yang daring dan dilakukan dari rumah atau lokasi yang berjauhan dengan lokasi pertemuan, juru bahasa juga akan mengalami kerepotan dalam mengatur perangkat yang dibutuhkan, memastikan jaringan internet cukup kencang, mengatur volume suara, serta mengatur kabel-kabel yang centang perenang karena tidak adanya operator perangkat yang biasa membantu saat penjurubahasaan berlangsung di lokasi.

            Sebuah studi yang dilakukan AIIC (The International Association of Conference Interpreters) belum lama ini menunjukkan bahwa dalam melakukan RSI tingkat tekanan dan stres yang dialami juru bahasa meningkat tajam. Kemampuan konsentrasi juru bahasa lebih cepat menurun dan tingkat kelelahan justru meningkat secara signifikan. Tidak sedikit juru bahasa yang awalnya mampu melakukan penjurubahasaan selama 30 menit kini hanya sanggup melakukannya selama 15 menit atau bahkan kurang dari itu.

            Itulah kenapa, dalam penjurubahasaan jarak jauh, khususnya RSI, juru bahasa dilarang untuk bekerja seorang diri. Perlu ada rekan yang dapat menggantikan saat juru bahasa sudah merasa lelah dan kewalahan, jika tiba-tiba terjadi masalah pada jaringan internet, dan jika listrik tiba-tiba padam! 

           

Dari Sisi Kesehatan

            Beberapa waktu yang lalu AICI menggelar acara Bincang-Bincang Daring yang menghadirkan seorang dokter spesialis THT-KL, dr. Iman Pradana, Sp.THT-KL. Dalam perbincangan itu dijelaskan bahwa penggunaan perangkat jemala (headset) untuk waktu yang lama tanpa mengistirahatkan telinga akan berdampak pada kesehatan pendengaran, seperti tinnitus (munculnya suara berdenging atau berdengung di telinga), vertigo, dan bahkan kehilangan pendengaran. Juru bahasa juga rentan terhadap kejut akustik (acoustic shock), yakni munculnya suara kencang secara tiba-tiba yang dapat merusak gendang telinga. Telinga adalah aset utama juru bahasa, dan kita tidak bisa mengingkari kenyataan bahwa pekerjaan seorang juru bahasa akan sangat bergantung pada kemampuannya untuk mendengar perbincangan, pembicaraan atau ujaran yang disampaikan secara lisan.

            Selain itu, suara juru bahasa juga menjadi aset yang sangat penting. Berbicara tanpa henti untuk waktu yang lama dapat memicu timbulnya disfonia, atau gangguan pita suara, misalnya suara menjadi serak dan bahkan hilang. Juru bahasa tentu tidak bisa bekerja tanpa kualitas suara yang prima dan terjaga. Untuk menjaga kualitas suara juru bahasa harus menjaga hidrasi, atau mengonsumsi air dalam jumlah yang cukup selama bekerja. Menjaga hidrasi juga menjadi buah simalakama, karena kandung kemih akan cepat penuh dan juru bahasa tentu perlu untuk membuang air kecil beberapa kali saat sedang bekerja. Jika juru bahasa berusaha untuk menahan diri dan tidak segera membuang air kecil tentu akan memicu gejala penyakit lain seperti infeksi saluran kemih dan bahkan penyakit ginjal atau penyakit-penyakit lain yang membahayakan.

            Untuk menjaga kesehatan pendengaran, pita suara, dan tubuh, juru bahasa sebaiknya bekerja bersama seorang rekan yang dapat memberi kesempatan untuk beristirahat, mengistirahatkan telinga dan pita suara, serta untuk memberi kesempatan juru bahasa yang tidak sedang bekerja ke kamar kecil. Jika akibat memaksakan diri juru bahasa mengalami penyakit-penyakit seperti ini, tentu klien tidak akan bersedia untuk menanggung biaya pengobatannya, bukan?

 

Ketentuan AICI

            Dari semua pembahasan di atas dapat disimpulkan, bahwa dalam melakukan penjurubahasaan simultan, baik di lokasi maupun secara jarak jauh, juru bahasa sebaiknya tidak bekerja sendiri dan harus bekerja secara bermitra dengan rekan juru bahasa lain. Tujuannya tidak lain untuk memastikan proses komunikasi yang berlangsung dalam suatu pertemuan dapat berjalan dengan lancar dan juru bahasa tetap dapat memberikan hasil penjurubahasaan yang berkualitas. Bekerja dengan seorang atau lebih rekan dapat menjamin kualitas penjurubahasaan tetap prima, serta kesehatan pendengaran dan pita suara tetap terjaga.

            Untuk itu, pasal 8 poin (c) kode etik AICI menyebutkan “Anggota dilarang untuk bekerja sendirian ataupun tanpa didampingi rekan kerja untuk pekerjaan yang berlangsung lebih dari 2 (dua) jam”. Ketentuan ini berlaku untuk kegiatan penjurubahaaan di lokasi. Sedangkan untuk penjurubahasaan jarak jauh, atau RSI, disepakati bahwa juru bahasa harus didampingi rekan kerja untuk pekerjaan yang berlangsung lebih dari satu jam. Ketentuan yang serupa juga berlaku di berbagai asosiasi profesi juru bahasa di seluruh dunia.

             

Jangan Gadaikan Reputasi

            Bisa dikatakan untuk pertemuan yang berlangsung di lokasi dengan durasi kerja lebih dari dua jam, dibutuhkan dua orang, tapi, untuk pertemuan singkat yang berlangsung tidak lebih dari satu jam bisa dilakukan sendiri. Sedangkan untuk pertemuan yang bersifat daring dan berlangsung kurang dari atau sampai dengan satu jam masih diperbolehkan untuk bekerja sendiri,  asalkan mampu dan kuat. Hal ini tidak jauh berbeda dengan dunia penerbangan, untuk pesawat besar berbadan lebar dengan penerbangan jarak jauh dibutuhkan dua orang pilot, sedangkan pesawat berbadan kecil untuk jarak tempuh yang dekat bisa dikemudikan oleh satu orang pilot saja,

Jadi, apakah kita masih akan memaksakan untuk bekerja seorang diri saat melakukan penjurubahasaan simultan? Apakah kita rela memberikan kualitas penjurubahasaan yang jauh dari prima dan membahayakan kesehatan diri kita hanya untuk mengejar target tanpa memedulikan kebutuhan pembicara dan peserta? Semoga jawabannya adalah tidak!

            Sebagai seorang juru bahasa konferensi profesional reputasi dan kualitas adalah segala-galanya. Kehebatan seorang juru bahasa tidak dilihat dari seberapa lama dia dapat melakukan penjurubahasaan seorang diri atau seberapa sering dia mendapatkan pekerjaan. Untuk dapat bertahan di profesi ini dibutuhkan juru bahasa yang menempatkan kualitas sebagai aspek utama, yang mampu menekan ego demi kepentingan orang banyak, dan tentunya yang memegang teguh integritas sambil tetap menjaga kesehatan fisik, mental, telinga, dan pita suara.

            Ada satu pepatah yang saya dapat dari acara Bincang-Bincang tentang kesehatan telinga dan pita suara yang sangat mengena:

 

SO MANY PEOPLE SPEND THEIR HEALTH GAINING WEALTH, AND THEN HAVE TO SPEND THEIR WEALTH TO REGAIN THEIR HEALTH.

 

Apakah kita mau menjadi juru bahasa konferensi profesional dengan reputasi yang baik atau memilih untuk mengabaikan dan menggadaikan reputasi demi pundi-pundi semata? Semua kembali kepada Anda.

 

==0==